Kematian khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan secara tragis melalui tangan para perusuh tahun 35 H telah menyebabkan terjadinya beberapa peristiwa yang mengguncang tubuh umat Islam. Salah satu di antaranya adalah perang Shiffien, 2 tahun setelah ‘Ali ibn Abi Thalib dibai’at jadi khalifah menggantikan ‘Utsman.
Perang besar antara kubu ‘Ali dengan kubu Mu’awiyah ibn Abi Sufyan itu, tidak hanya mengoyak umat Islam menjadi dua kubu besar secara politis, tetapi juga melahirkan dua aliran pemikiran yang secara ekstrem selalu bertentangan yaitu Al-Khawarij dan Syi’ah. Misalnya Khawarij mengkafirkan dan menghalalkan darah ‘Ali setelah peristiwa, sementara Syi’ah belakangan mengkultuskan ‘Ali demikian rupa sehingga seolah-olah ‘Ali adalah manusia tanpa cacat. Sekalipun semula kedua aliran tersebut bersifat politik tapi kemudian untuk mendukung pandangan dan pendirian politik masing-masing, mereka memasuki kawasan pemikiran agama (baca: teologi)
Makalah ini tidak akan membahas kedua aliran ekstrem tersebut, tapi menfokuskan pembahasan pada aliran Khawarij, yang tercatat dalam sejarah memiliki pandangan-pandangan politik dan teologi yang ekstrem. Pertanyaan yang ingin penulis teliti jawabannya adalah latar belakang apa yang menyebabkan Khawarij tidak saja mempunyai pandangan-pandangan politik dan teologi yang ekstrem tapi juga berperilaku keras bahkan cenderung kejam. Mereka, kata Abu Zahra, suka menyabung nyawa dalam bahaya meskipun tidak ada pendorong untuk berbuat itu. Ironisnya mereka sangat kejam dan sama sekali tidak toleran dengan perbedaan pendapat sesama Muslim, tapi sangat toleran dengan Ahlul Kitab.
Tapi sebelum menganalisis masalah di atas penulis akan deskripsikan terlebih dahulu asal usul dan perkembangan Khawarij, dengan tekanan pada asal usul, untuk dapat melihat secara jelas bagaimana persoalan politk diberi legitimasi teologi di samping alasan teknis terbatasnya halaman untuk berbicara panjang lebar tentang perkembangan Khawarij masa-masa selanjutnya. Sedangkan mengenai doktrin pemikiran politik dan teologi Khawarij itu sendiri tidak penulis bicarakan secara khusus, tetapi hanya beberapa doktrin diungkapkan dalam perjalanan bahasan kesejarahan tentang perkembangan pemikiran itu sendiri. Sikap itu diambil karena makalah ini memakai pendekatan historis, bukan doktriner.
Asal-Usul dan Perkembangan Khawarij
Pada tahun 37 H Mu’awiyah, Gubernur Syria memberontak terhadap Amir al-Mu’minin ‘Ali ibn Abi Thalib. Pemberontakan itu meletus karena dalam suasana berkabung dan emosi yang meletup-letup karena pembunuhan ‘Utsman, ‘Ali mengeluarkan keputusan yang tidak strategis sebagai seorang kepala negara, yaitu pemecatan Mu’awiyah dari jabatan Gubernur Syria. Dengan pemecatan itu Mu’awiyah punya dua alasan untuk melawan ‘Ali. Tidak jelas mana yang lebih dominan, apakah karena ingin menuntut balas atas kematian ‘Ustman atau ingin mempertahankan jabatannya sebagai Gubernur.
Sebelum peperangan meletus, ‘Ali sudah mengirim Jarir ibn Abdillah al-Bajuli untuk berunding dengan Mu’awiyah. Tapi perundingan tidak berhasil mencegah peperangan karena tuntutan Mu’awiyah yang terlalu berat untuk dipenuhi oleh ‘Ali. Mu’awiyah menuntut dua hal: (1) ekstradisi dan penghukuman terhadap para pelaku pembunuhan Amir al Mu’minin ‘Utsman ibn ‘Afan; dan (2) pengunduran diri ‘Ali dari jabatan Imam (khalifah) dan dibentuk sebuah Syura untuk memilih khalifah baru.
Berbeda dengan Mu’awiyah yang secara pribadi punya alasan untuk menuntut balas atas kematian ‘Utsman, penduduk Syria yang mendukungnya memerangi ‘Ali tidaklah dapat dikatakan juga punya motivasi yang sama. Kalau memang mereka siap mati membela darah ‘Utsman, hal itu tentu telah mereka lakukan sejak awal-awal begitu ‘Utsman dibunuh. Tetapi setelah ‘Ali mencapai kemenangan dalam perang Jamal, penduduk Syria melibatkan diri dalam menentang ‘Ali karena mereka menghawatirkan campur tangan ‘Ali dalam urusan dalam negeri mereka sediri di Syria. Demi untuk melemahkan kedudukan ‘Ali penduduk Syria menjadikan pembelaan terhadap ‘Utsman sebagai lambang perjuangan menentang ‘Ali.
Sekali lagi sebelum peperangan benar-benar meletus ‘Ali mengirim kembali juru runding yang terdiri dari Syabats ibn ‘Aibi al-Yarbu’i at-Tamimi, ‘Ali ibn Hatim at-Tha’i, Yazid ibn Qais al-Arhabi, dan Ziyad ibn Khasafah at-Taimi at-Tamimi, untuk merunding dengan Mu’awiyah. Tapi perundingan inipun juga berakhir dengan kegagalan.
Makalah ini tidak akan menguraikan tentang perang Shiffien secara rinci, yang penting diungkap di sini dalam kaitannya dengan kelahiran aliran Khawarij adalah ide ‘Amru ibn ‘Ash dari pihak Mu’awiyah untuk memecah belah pasukan ‘Ali dengan mengangkat lembaran mushhaf Al-Qur’an dengan ujung tombak sebagai isyarat mohon perdamaian dengan bertahkim kepada Kitab Suci Al-Qur’an. Tiga Sejarawan Muslim besar, At-Thabari, Ibnu al-Atsir dan Ibnu Katsir menyebutkan peristiwa itu dalam kitab mereka masing-masing. Menurut ‘Amru, tawaran bertahkim kepada Al-Qur’an itu akan diterima oleh sebagian pengikut ‘Ali dan akan ditolak oleh yang lain. Dengan demikian mereka pecah. Jika sekiranya mereka sepakat toh juga tidak ada ruginya bagi Mu’awiyah karena paling kurang sampai waktu tertentu peperangan dapat berhenti.
Benar saja, segera saja sebagian pengikut ‘Ali menyerukan untuk menerima tawaran Mu’awiyah. ‘Ali sendiri menolaknya, karena menurut dia itu hanyalah bagian dari taktik perang Mu’awiyah. ‘Ali megatakan; “’Ibâdallah, teruslah berada dalam kebenaran dan keyakinan kalian. Teruslah memerangi musuh, karena Mu’awiyah, ‘Amru, Ibn Abi Mu’ith, Habib, Ibn Abi Sarah dan Dhahhak bukanlah Asshâb ad-dîn dan bukan pula Ashhâb Al-Qur’an. Saya lebih mengenal mereka dibandingkan kalian. Saya telah bergaul dengan mereka sejak kecil sampai dewasa, mereka adalah anak-anak dan laki-laki dewasa yang jelek. Mereka minta bertahkim kapada kitab Allah, pada hal, demi Allah, mereka mengangkat mushhaf itu hanyalah untuk tipu muslihat belaka.” Mendengar seruan ‘Ali mereka menjawab: “Mereka mengajak kita kembali kepada Kitabullah, kenapa kita tidak menerimanya?” ‘Ali kembali menjawab: “Saya memerangi mereka supaya mereka tunduk kepada hukum kitab Allah; karena mereka telah menentang perintah Allah dan melupakan janji mereka dengan Allah, serta mengabaikan kitab suci itu.” Kemudian Mis’ar ibn Fadki at-Tamimi, Zaid ibn Hushain ath-Thai dan beberapa tokoh lain dari kelompok Al-Qura’– salah satu unsur koalisi pasukan ‘Ali–mendesak, bahkan mengancam akan memperlakukan ‘Ali seperti apa yang telah mereka lakukan terhadap ‘Utsman.
Setelah ‘Ali terpaksa mengikuti kehendak mereka, Al-Asy’asts ibn Qais menawarkan diri untuk menemui Mu’awiyah dan menanyakan apa yang diinginkannya dengan mengangkat mushhaf seperti itu. ‘Ali menyetujuinya. Mu’awiyah mengatakan: “Mari kita kembali kepada apa yang diperintahkan Allah di dalam Al-Qur’an. Kalian utuslah seseorang yang kalian sukai dan kami pun akan mengutus seseorang yang kami sukai. Biarkan mereka berdua berunding berdasarkan Kitabullah, kemudian kita ikuti apa yang mereka sepakati”. Dengan segera usulan Mu’awiyah itu disetujui sepenuhnya oleh pasukannya sendiri dan mereka sepakat mengutus ‘Amru ibn ‘Ash sebagai juru runding. Sementara dari pihak ‘Ali sekali lagi kelompok yang tadi memaksa ‘Ali menerima perundingan memaksakan kehendak mereka kepada ‘Ali. Mereka menunjuk Abu Musa al-Ays’ari, sementara ‘Ali menginginkan ‘Abdullah ibn ‘Abbas atau Malik al-Asytar. Sekali lagi ‘Ali terpaksa mengalah kepada keinginan mereka.
Abu Musa adalah tokoh yang sudah terlibat dalam fase-fase pertama penaklukkan Iraq baik sebagai jenderal pasukan maupun gubernur Kufah dan Bashrah. Dia juga pernah menentang kebijakan ’Utsman dan dipilih oleh kelompok sebagai gubernur Kufah ketika mengusir gubernur tunjukan ‘Utsman, Sa’id ibn ‘Ash. Menurut Shaban, Abu Musa punya hubungan politik yang lama tidak tergoyahkan dengan kelompok. Sebaliknya ‘Ali meragukan loyalitas Abu Musa karena ‘Ali pernah memecat Abu Musa dari jabatannya karena kurang aktf dan loyal kepadanya. Perlu dicatat bahwa pada waktu itu Abu Musa tidak ada dalam pasukan, karena dia memencilkan diri ke tanah Hijaz. Waktu utusan memberi tahu bahwa dia telah dipilih sepakai Hakam, Abu Musa berkomentar: Innâ lillahi wa innâ illaihi râji’un. Tidak jelas bagaimana menafsirkan komentar Abu Musa seperti itu. Yang jelas baik Abu Musa maupun ‘Amru adalah dua tokoh yang sangat mengenal daerah masing-masing. Abu Musa sangat kenal daerah Iraq dan ‘Amru sangat kenal dengan Syiria.
Perundingan di Daumah al-Jandal, Azruh itu berjalan cukup lama, sekitar enam bulan, mulai Shafar sampai Ramadhan tahun 37 H. tidak banyak yang dapat diketahui tentang apa saja yang dibicarakan dalam perundingan sehingga memerlukan waktu yang lama. Kalaupun ada masalah yang alot dibicarakan juga tidak jelas masalah apa itu. Di antara yang terungkap adalah keberhasilan ‘Amru meyakinkan Abu Musa bahwa Mu’awiyah sebagai wali ‘Utsman paling berhak dibanding siapapun untuk menuntut balas atas kematian ‘Utsman. Waktu ‘Amru membicarakan keterlibatan ‘Ali dalam pembunuhan ‘Utsman, Abu Musa tidak mau melayani. Dia mengajak ‘Amru membicarakan hal yang bisa menyatukan umat Muhammad. Kata Abu Musa : “Anda tahu, penduduk Iraq sama sekali tidak menyukai Mu’awiyah, dan penduduk Syiria tidak menyukai ‘Ali. Bukankah lebih baik kita copot keduanya dan kita angkat Abdullah ibn ‘Umar?”. ‘Amru segera menyetujui pendapat Abu Musa dan mengusulkan beberapa nama, tapi Abu Musa hanya menyetujui Ibnu ‘Umar. Karena tidak tercapai kesepakatan siapa yang akan diangkat menjadi Khaifah, akhirnya disepakati menyerahkannya kepada permusyawaratan kaum Muslim.
Beberapa sumber kemudian menyebutkan kedua juru runding itu mengumumkan hasil kesepakatan mereka. Yang duluan bicara adalah Abu Musa, baru kemudian ‘Amru. Tapi kemudian ’Amru menghianati Abu Musa dengan secara sepihak mengukuhkan Mu’awiyah menjadi Khalifah tanpa menurunkannya terlebih dahulu seperti yang disepakati. Harun Nasution yang terkenal berpikiri kritis juga meyakini kelicikan bahkan kecurangan ‘Amru tersebut. Tulisnya : “…Tradisi menyebut bahwa Abu Musa al-Asy’ari, sebagai yang tertua, terlebih dahulu berdiri mengumumkan kepada orang ramai putusan menjatuhkan kedua pemuka yang bertentangan itu. Berlainan dengan apa yang telah disetujui, ‘Amru ibn ‘Ash mengumumkan hanya menyetujui penjatuhan ‘Ali yang telah diumumkan al-Asy’ari, tetapi menolak penjatuhan Mu’awiyah”.
Dalam hal ini penulis sepakat dengan Hasan Ibrahim Hasan yang meragukan kebenaran kisah tersebut. Menurut dia, mengutip Al-Mas’udi, kedua juru runding tersebut tidak pernah berpidato menyampaikan hasil perundingan mereka. Mereka memang sepakat mencopot ‘Ali dan Mu’awiyah dan menyerahkan kepada permusyawaratan kaum Muslimin untuk memilih Khalifah baru. Bahkan Hasan menyetakan para sejarawan telah menzalimi Abu Musa dengan menuduh kalah cerdik dari ‘Amru. Kemungkinan besar pelecehan terhadap kemampuan diplomasi Abu Musa itu, menurut Hasan, karena pendapat Abu Musa dalam perundingan itu tidak sejalan dengan pendapat ‘Ali dan Bani Hasyim walaupun sejalan dengan pendapat sebagian besar kaum Muslimin waktu itu.
Kenapa kemudian kedudukan Mu’awiyah semakin kokoh di Syiria, bukan karena ‘Amru telah membai’ahnya, tapi karena memang’Ali tidak lagi punya kekuatan yang cukup untuk menggempur Mu’awiyah karena kemudian pasukan koalisinya menjadi lemah sesudah perang Shiffien, apalagi nanti setelah kelompok besar memisahkan diri yang kemudian dikenal dangan kelompok Khawarij. Sementara pendukung Mu’awiyah semakin solid, apalagi Mu’awiyah sudah mejadi Gubernur Syria semenjak zaman ‘Umar.
Sekarang kita kembali pada kelompok Qurrâ’. Setelah perundingan selesai mereka berbalik menentang Tahkîm, padahal tadinya mereka juga mendesak ‘Ali menerima Tahkîm. Sekarang mereka kemukakan alasan-alasan yang bersifat teologis, untuk mendukung pandangan dan sikap polotik mereka. Menurut mereka, Tahkîm salah karena hukum Allah tentang pertikaian mereka sudah jelas. Mereka yakin kubu ‘Ali lah (dalam konflik dengan kubu Mu’awiyah) yang berada di pihak yang benar. Kubu ‘Ali yang beriman. Tahkîm berarti meragukan kebenaran masing-masing pihak. Hal itu bertentangan dengan Al-Qur’an. Mereka teriakkan Lâ hukma illa lillah (tidak ada hukum kecuali hukum Allah). Mereka meminta ‘Ali mengaku salah, bahkan megakui bahwa dia telah kafir kerena menerima Tahkîm. Mereka desak ‘Ali supaya membatalkan hasil kesepakatan Tahkîm. Kalau tuntutan mereka dipenuhi mereka akan kembali berperang di pihak ‘Ali. Tentu saja ‘Ali menolak. Kesepakatan tidak boleh dilanggar. Agama memerintahkan kita untuk menepati janji. Kalau ‘Ali mungkir janji koalisinya akan semakin pecah. Lagipula bagaimana mungkin dia mau mengakui dirinya telah kafir, padahal dia tidak pernah berbuat musyrik semenjak beriman.
Karena tuntutan mereka tidak dipenuhi ‘Ali, akhirnya mereka meninggalkan kamp ‘Ali di Kufah pergi ke luar kota menuju desa Harura yang tidak seberapa jauh dari Kufah. Dari nama desa Harura inilah, maka untuk pertama kali mereka itu dikenal dengan nama golongan Al-Harûriyah. Di Harura inilah mereka membentuk organisasi sediri dan memilih Abdullah ibn Wahab ar-Rasibi dari Banu ‘Azd sebagai pemimpin mereka. Karena mereka keluar dari kubu ‘Ali itulah kemudian mereka dikenal dengan al-Khawârij, bentuk jama’ dari Khâriji (yang keluar).
Menurut Syahrastani, yang disebut Khârij, adalah siapa saja yang keluar dari (barisan) imam yang hak yang telah disepakati oleh jama’ah, baik ia keluar pada masa sahabat di bawah pimpinan al-Aimmah ar-Râsyiddîn atau pada masa tabi’in atau pada masa imam mana pun di setiap masa. Secara etimologis Syahrastani benar, tapi secara terminologi apalagi secara historis nama Khawarij hanya diberikan kepada kelompok yang keluar dari kubu ‘Ali seperti yang disebut di atas, dan disebut juga al-Harûriyah karena mereka pergi memisahkan diri ke Harura. Tapi dibanding dengan nama-nama lain yang dipanggilkan kepada mereka maka nama Khawarij lah yang paling umum bisa dipakaikan untuk semua kelompok pecahan Khawarij, sebab dalam perkembangan sekanjutnya kita akan lihat kelompok ini paling mudah memisahkan diri dari kelompok awalnya karena perbedaan pendapat yang kadang-kadang tidak prinsip. Khurûj sudah merupakan dustûr mereka. Dalam bahasa Inggris Khawarij ditulis Kharijites dan dialihbahasakan menjadi Seceders, Rebels.
Semakin lama kelompok yang meisahkan diri ke Harura semakin membesar, hingga bulan Ramadhan atau Syawal tahun 37 H jumlah mereka sudah mencapai 12.000 orang. Dan kamp mereka kemudian pindah ke Jukha, sebuah desa yang terletak di tepi barat sungai Tigris. ‘Ali berusaha berunding dengan mereka tapi tidak membuahkan hasil. Secara diam-diam sebagian mereka pergi meninggalkan Jukha, berencana pindah ke-Al-Madain tapi ditolak oleh Gubernur setempat. Akhirnya mereka pergi ke Nahrawan. Jumlah mereka berkumpul di Nahrawan mencapai 4000 orang di bawah pimpinan ‘Abbdullah ibn Wahab ar-Rasibi. Semula ‘Ali tidak menanggapi secara serius gerakan-gerakan orang Khawarij ini, sampai dia mendengar berita tentang kekejaman mereka terhadap orang-orang Islam yang tidak mendukung pendapat mereka. Di antara yang menjadi korban adalah ‘Abdullah ibn Khabbab, salah seorang putera sahabat Nabi. Abu Zahra mengutip kisah kematian putera Khabbab dari buku Al-Kâmil karya Al-Mubarrad sebagai berikut :
“Sekelompok Khawarij berjumpa pada suatu saat dengan seorang Muslim dan seorang Nasrani. Mereka membunuh si Muslim tetapi berpesan kepada si Nasrani agar melakukan kebaikan sambil berseru: “Jagalah janji Nabi kalian!” Kemudian ketika itu ‘Abdullah ibn Khabab sedang membawa mushaf di pundaknya bersama isterinya yang sdang hamil, berjalan menjumpai mereka. Lentas mereka menegur ‘Adullah, dengan mengatakan, “Sesungguhnya apa yang kamu bawa di pundakmu itu menyuruh kami untuk membunuhmu… Bagaimana menurut pendapatmu mengenai Abu Bakar dan ‘Umar?” tanya mereka. ‘Abdullah menjawab, “Aku memuji kedua beliau itu.” Mereka bertanya pula, “Bagaimana pendapatmu mengenai ‘Ali sebelum Tahkîm dan mengenai ‘Utsman dalam kekhalifahannya selama enam tahun?” ‘Abdullah menjawab, “Aku juga memuji kedua beliau itu” Lalu mereka masih bertanya, “Bagaimana pendapatmu mengenai Tahkîm?” Abdullah menjawab, “Sesungguhnya ‘Ali itu lebih tahu tentang Kitab Allah dari pada kalian semua, lebih taqwa dari kalian dalam beragama, dan beliau lebih mengena pandangannya daripada kalian semua.” Maka mereka mengatakan, “Kamu ini tidak mengikuti hidayah, tapi kamu hanya mengikuti mereka atas nama mereka.” Akhirnya mereka menyeret Abdullah ketepi sungai dan menyembelihnya di sana. Setelah itu mereka tawar menawar dengan orang laki-laki Nasrani tentangn pohon kurma. Orang Nasrani itu megatakan, “Ambil saja, pohon kurma itu milik kalian!” Mereka menjawab, “Demi Tuhan, kami tidak mau membawa kurma ini kecuali dengan harga.” Orang Nasrani itu lalu berkata dengan keheranan, “Ini benar-benar aneh, kalian berani membunuh orang seperti ‘Abdullah ibn Khabab, tetapi kalian tidak mau menerima kurma kami ini kecuali dengan harga”.
‘Ali kemudian mengirim utusan membujuk dan menyadarkan mereka. ‘Ali menawarkan kepada mereka untuk kembali bergabung dengannya bersama-sama menuju Syria, atau pulang ke kampung masig-masing. Sebagian memenuhi anjuran ‘Ali; ada yang bergabung kembali dan ada yang pulang kampung serta ada yang menyingkir ke daerah lain. Namun ada sekitar 1800 orang yang tetap membangkang. Mereka menyerang pasukan ‘Ali pada tanggal 9 Shafar 38 H yang dikenal dengan pertempuran Nahrawan yang mengenaskan itu. Hampir semua mereka mati terbunuh. Hanya delapan orang saja yang selamat.
Sejak peristiwa Nahrawan itu lah kelompok Khawarij yang terpencar di beberapa daerah semakin radikal dan kejam. ‘Ali sendiri kemudian menjadi korban dibunuh oleh ‘Abdurrahman ibn Muljam Al-Murdi, yang anggota keluarganya terbunuh di Nahrawan. Memang karena peristiwa Nahrawan ini, walaupun dari segi fisik ‘Ali dapat menumpas habis semua Khawarij yang berada di situ, telah mengakibatkan ‘Ali tidak pernah bisa berangkat ke Syria. Antara tahun 39 dan 40 H berulangkali orang-orang Khawarij membuat kegaduhan yang menguras ‘Ali untuk menghadapinya. Mu’awiyah pun, yang setelah ‘Ali wafat menjabat kedudukan Amirul Mu’minin dan terkenal hilm (lemah lembut dan ‘arif), selama pemerintahannya yang 20 tahun itu tidak mampu membujuk apalagi menumpas habis Khawarij.
Karena keterbatasan halaman makalah ini tidak akan medeskripsikan lebih jauh perkembangan Khawarij sampai masa-masa selanjutnya. Cuma yang perlu dicatat adalah bahwa dalam perkembangan selanjutnya Khawarij terpecah menjadi beberapa kelompok, karena, seperti sudah diungkap di atas, sudah menjadi dustûr mereka kalau berbeda pendapat segera memisahkan diri membentuk kelompok sendiri. Para sejarawan berbeda pendapat tentang jumlah kelompok-kelompok pecahan Khawarij, tapi mereka sepakat jumlahnya tidak kurang dari dua puluh kelompok, sebagian ushûl dan yang lain furû’. Yang termasuk ushûl menurut Abu Hasan Al-Asy’ary adalah : Al-Azariqah, al-Ibadiyah, an-Najdiyah dan ash-Shufriyah. Sementara menurut Syahrastani yang masuk ushûl adalah al-Muhakkimah al-Ula, al-Azariqah, an-Najdat, al-Baihasiyah, al-‘Ajaridah, ats-Tsa’Alibah, al-Ibadhiyah dan ash-Shufriyah. Yang termasuk furû’ banyak sekali, tidak relevan kita sebutkan semuanya dalam makalah ini, di antaranya adalah al-‘Athawiyah, al-Fadikiyah dan al-‘Ajaridah.
Latar Belakang Ekstremitas Khawarij
Seperti yang sudah diungkap di atas, Khawarij memiliki pemikiran dan sikap yag ekstrem, keras, radikal dan cederung kejam. Misalnya mereka menilai ‘Ali ibn Abi Thalib salah karena menyetujui dan kesalahan itu membuat ‘Ali menjadi kafir. Mereka memaksa ‘Ali mengakui kesalahan dan kekufurannya untuk kemudian bertaubat. Begitu ‘Ali menolak pandangan mereka walaupun dengan mengemukakan argumentasi, mereka menyatakkan keluar dari pasukan ‘Ali dan kemudian melakukan pemberontakan dan kekejaman-kekejaman. Yang menjadi sasaran pengkafiran tidak hanya ‘Ali bi Abi Thalib sendiri, tapi juga Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, ‘Amru ibn ‘Ash, Abu Musa al-Asy’ari dan lain-lain yang mendukung mereka. Dalam perkembangan selanjutnya mereka perdebatkan apakah ‘Ali hanya kafir atau musyrik.
Untuk mendukung pandangan mereka baik dalam aspek politik maupun teologi, mereka menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Misalnya ; kelompok al-Azariqah, tidak hanya menyatakan ‘Ali kafir, tapi juga mengatakan ayat; Wa min an-nâsi man yu’jibuka qauluhu fi al-hayâh ad-dunya wa yusyhidullah ‘ala mâ fi qalbihi wa huwa aladdu al-khshâm) diturunkan Allah mengenai ‘Ali sedangkan tentang ‘Abdurrahman ibn Muljam yang membunuh ‘Ali Allah menurunkan ayat (wa minannâsi man yasyri nafsahu ibtighâa mardhâtillah). Mereka gampang sekali menggunakan ayat-ayat Al Qur’an untuk menguatkan pendapat-pendapat mereka.
Yang menarik kita teliti adalah, latar belakang apa yang menyebabkan mereka memiliki pandangan seperti itu. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita perlu melakukan analisis terhadap pengertian istilah Qurrâ’ atau Ahl al– Qurrâ’, sebutan mereka sebelum menjadi Khawarij. Apakakah istilah itu berarti para penghafal Al-Qur’an atau orang orang kampung. Kalau sekiranya yang benar adalah yang pertama maka persoalannya adalah persoalan teologis murni (persoalan intepretasi yang sempit dan picik), tapi kalau yang benar adalah yang kedua persoalannya adalah persoalan sosial politik. Penulis kira inilah kata kunci yang dapat membantu kita memahami latar belakang ekstremitas Khawarij.
Melihat pemahaman Khawarij yang dangkal dan literer terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang mereka jadikan dalil membenarkan pandangan dan sikap politik mereka, maka penulis lebih cenderung mengartikan istilah Qurrâ’ bukan sebagai para penghafal Al-Qur’an, tetapi orang-orang desa. Nourouzzaman Shiddiqi, sejarawan Muslim dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang pernah menulis paper tenang Khawarij waktu studi di McGill University, Canada menyatakan bahwa Ahlu al-Qurrâ’ lebih tepat diartikan sebagai ‘para penetap’ walaupun Ahl al-Qurrâ’ bisa juga berarti para penghafal Al-Qur’an.
Uraian yang panjang lebar dan agak memuaskan tentang pengertian istilah al-Qurrâ’ ditulis oleh Mahayadin Haji Yahaya dalam bukunya Sejarah Awal Perpecahan Umat Islam (11-78 H/632-698 M) yang berasal dari disertasi doktor yang bersangkutan di Exterter University, England dengan judul bahasa Inggris The Origins of The Khawarij. Menurut Yahaya para sejarawan seperti Sayf, at-Thabary dan Ibn ‘Atsam cenderung menafsirkan al-Qurrâ’ sebagai para penghafal Al-Qur’an. Kekeliruan itu mungkin muncul terpegaruh dengan ucapan Sa’idi ibn ’Ash dalam sebuah khutbah di Masjid besar di Kufah yang megatakan; “Ahabbukum ilayya akramukum li kitâbillah.
Istilah-istilah lain yang dipakai oleh para sejarawan menunjukkan kelompok yang sama yang melakukan pemberontakan di Kufah waktu itu adalah asyrâf, wujûh, sufahâ, rijâl min qurâ’ ahli al-kufah, khyar ahli al-kufah, jama’ah ahli al kufah dan lain-lain yang tidak satu pun yang menunjukkan makna penghafal-penghafal Al-Qur’an. Tetapi yang jelas ialah bahwa al-Qurra’ itu ialah golongan manusia di Kufah, atau sebagian dari golongan asyrâf, orang-orang kenamaan dan pemimpin-pemimpin Kufah yang tinggal atau menguasai kampung-kampung di Irak dan disifatkan sebagai orang-orang yang bodoh. Sebagian dari mereka ini telah disingkirkan dari jabatan-jabatan penting dalam masa pemerintahan Khalifah ‘Utsman.
Sejalan dengan itu Harun Nasution menulis bahwa kaum Khawarij pada umumnya terdiri dari orang-orang Arab Badawi. Hidup di padang pasir yang tandus membuat mereka bersifat sederhana dalam cara hidup dan pemikiran, tetapi keras hati serta berani, dan bersikap merdeka, mereka tetap bersikap bengis, suka kekerasan dan tak gentar mati. Sebagai orang Badawi mereka tetap jauh dari ilmu pengetahuan. Ajaran-ajaran Islam sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits, mereka artikan menurut lafaznya dan haus dilaksanakan sepenuhnya. Oleh karena itu iman dan paham mereka merupakan iman dan paham orang sederhana dalam pemikiran lagi sempit akal serta fanatik. Iman yang tebal, tetapi sempit, ditambah lagi dengan sikap fanatik ini membuat mereka tidak bisa mentolelir penyimpangan terhadap ajaran Islam menurut paham mereka, walau pun penyimpangan dalam bentuk kecil. Di sinilah letak penjelasannya, bagaimana mudahnya kaum Khawarij terpecah belah menjadi golongan-golongan kecil serta dapat pula dimengerti tentang sikap mereka yang terus menerus mengadakan perlawanan terhadap penguasa-penguasa Islam dan umat Islam yang ada di zaman mereka.
Khawarij tidak hanya mengkafirkan ‘Ali bn Abi Thalib tapi juga Kalifah ‘Utsman ibn ‘Affan mulai tahun ketujuh pemerintahannya. Pengkafiran terhadap ‘Utsman (masalah teologis) juga berlatar belakang politik (kepentingan), tepatnya masalah tanah-tanah Sawad yang luas di wilayah Sasaniyah yang ditinggalkan oleh para pemiliknya. Di sekitar tanah yang ditinggalkannya itu, tulis Shaban, konflik itu terpusatkan. Tanah-tanah itu tidak dibagi-bagi, tetapi dikelola oleh kelompok Qurrâ’, dan penghasilannya dibagi-bagi antara para veteran perang penaklukan terhadap wilayah tersebut. Kelompok Qurrâ’ itu menganggap diri mereka sendiri hampir-hampir seperti pemilik sah atas kekayaan-kekayaan yang sangat besar ini. ‘Utsman tidak berani menentang hak yang dirampas ini secara terbuka, tetapi menggunakan pendekatan secara berangsur-angsur. Antara lain ‘Utsman menyatakan bahwa para veteran yang telah kembali ke Mekah dan Madinah tidak lantas kehilangan hak-hakya atas tanah-tanah Sawad ini. Kelompok Qurrâ’ dalam jawabannya menegaskan bahwa tanpa kehadiran mereka secara berkesinambungan di Iraq kekayaan-kekayaan ini sama sekali tidak akan pernah terkumpulkan, dengan demikian membuktikan bahwa para veteran Kufah tidak memiliki hak lebih besar atas tanah ini. Akibat dari pelaksanaan kebijaksanaan ‘Utsman itu kelompok Qurrâ’ belakangan mengetahui bahwa landasan kekuatan ekonomi mereka sedang dihancurkan karena tanah-tanah mereka dibagi-bagi, tanpa mempertimbangkan hak-hak mereka. Sebagai manifestasi perlawanan mereka pada ‘Utsman kelompok ini menghalang-halangi kedatangan Sa’id ibn ‘Ash- Gubernur yang ditunjuk oleh ‘Utsman–memasuki Kufah. Mereka memilih Abu Musa al-Asy’ary sebagai Gubernur dan memaksa ‘Utsman mengakui tindakan kekerasan ini.
Penutup
Dari uraian di atas penulis dapat megambil kesimpulan bahwa pemikiran politik dan teologi serta sikap ekstrem Khawarij lahir terutama disebabkan oleh latar belakang sosio-kultural mereka sebagai orang-orang Arab Badawi yang punya watak keras, kasar dan berani sehingga mereka tidak gentar mati walaupun untuk hal-hal yang tidak perlu. Sebutan Qurrâ’ bagi mereka sebelum dikenal dengan nama Khawarij tidaklah menunjukkan arti para penghafal Al-Quran, tapi menunjukkan arti mereka sebagai orang-orang desa.
Dari sejarah Khawarij itu kita dapat mengambil pelajaran bahwa persoalan-persoalan sosial politik kalau dibungkus dengan agama bisa mendatangkan bahaya yang lebih besar, apalagi kalau dilakukan oleh orang-orang yang pemahaman dan penguasaannya terhadap ajaran Islam sangat terbatas bahkan sangat sempit. Wawasan yang sangat sempit dan tertutup dapat melahirkan ekstremitas tidak hanya pemikiran tapi juga sikap dan tindakan.
YUNAHAR ILYAS,
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
KEPUSTAKAAN
Amin, Ahmad, Fajrul Islam, Cairo : Dar al-Kutub, cet. XI, 1975.
Al-Asy’ari, Abu Al-Hasan ‘Ali ibn Isma’il, Maqalât al-Islamiyîn wa Ikhtilâfu al-îMushalln, Cairo : Maktabah an-Nahdhah al-Mishriyah, cet. II, 1969.
Abu Zahrah, M, Sejarah Aliran-aliran dalam Islam Bidang Politik dan Aqidah, terjemah Shobahussurur, Gontor : PSIA, cet.I, 1991.
Ghazaly, ‘Ali Musthafa, Târîkh al-Firaq al-Islamiyah wa Nasyah ‘Ilmi al-Kalâm ‘Inda al-Muslimîn, Cairo, Maktabah Muhammad ‘Ali Shabij wa Auladih, cet. III. 1958.
Grunebaum, G. E. von, Clasical Islam A History 600 A.D.-1258 A.D., Chicago: Aldine Publising Company, cet. I, 1970.
Hasan, Ibrahim Hasan, Târîkh al-Isâlm as-Siyâsi wa ad-diny wa ats-Tsaqafi wa al- Ijtimâ’iy, Cairo: Maktababah an-Nahdhah al-Misriyah, cet. IV, tahun 1957.
Ibnu Al-Atsir, Al-Kâmil fi at- Târîkh , jilid III, Beirut: Darus Sader, 1965.
Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wan Nihâyah, juz VII, Lebanon : Darul Kutub al-‘Ilmiyah. Tt.
Nasution, Harun, Teologi Islam, Aliran-Aliran, Sejarah, Analisa Perbandingan, Jakarta: Jakarta, UI Press, cet.V, 1986.
Shaban, M.A., Sejarah Islam (Penafsiran Baru) 600-750, terjemahan Machnun Husein, Jakarta: Rajawali Pers, 1993.
Shiddiqi, Nouruzzaman, Syi’ah dan Khawarij dalam Perspektif Sejarah, Yogyakarta, PLP2M, cet, I, 1985.
Asy-Syahrastani, Muhammad Abdul Karim, Al-Milal wan-Nihal, Beirut: Darul Fikr, tt.
Ath-Thabari, Muhammad ibn Jarir, Târîkh al-Umam wal-Mulk, juz V, Lebanon: Darul Fikr, 1979.
Yahya, Mahayudi Haji, Sejarah Awal Perpecahan Umat Islam (11- 78 H/632 – 698 M), Kualalumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, cet. II, 1986.
Tuesday, July 21, 2009
Monday, July 20, 2009
WAKTU ISYA' DAN MENGAKHIRKAN SOLAT ISYA'
*
Hadis riwayat Aisyah ra., isteri Rasulullah saw. ia berkata
Pada suatu malam Rasulullah saw. mengakhirkan solat Isyak hingga suasana gelap sekali. Rasulullah saw. belum keluar (dari rumah untuk solat Isyak) sampai Umar bin Khathab berkata: Para wanita dan anak-anak sudah tidur. Kemudian Rasulullah saw. keluar kemudian beliau bersabda kepada para sahabat yang ada di masjid: Tidak ada seorang pun di antara penghuni bumi ini yang menunggunya selain kalian sebelum Islam tersiar di masyarakat. (Shahih Muslim No.1008)
*
Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata:
Suatu malam saya menanti Rasulullah saw. untuk melakukan solat Isyak yang diakhirkan. Kemudian beliau datang kepada kami ketika sepertiga malam atau lebih telah lewat. Kami tidak tahu apa yang membuatnya sibuk pada keluarganya atau lainnya. Ketika keluar beliau bersabda: Sesungguhnya engkau sedang menunggu suatu solat yang tidak pernah ditunggu oleh orang-orang pemeluk agama selain kalian. Sekiranya hal itu tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan ajak mereka solat pada saat seperti ini. Lalu beliau menyuruh Muazin mengiqamati lalu salat. (Shahih Muslim No.1010)
*
Hadis riwayat Anas ra.:
Dari Tsabit bahawa mereka (para sahabat) bertanya kepada Anas tentang cincin yang dikenakan Rasulullah saw. Ia berkata: Pada suatu malam Rasulullah saw. mengakhirkan solat Isyak hingga setengah malam atau bahkan lebih. Kemudian beliau datang dan bersabda: Sesungguhnya orang-orang setelah solat lantas tidur. Sementara kalian masih menunggu solat. Setelah itu kata Anas: Saya seolah-olah melihat cincin beliau yang terbuat dari perak begitu berkilat saat beliau mengangkat jari kelingking kirinya. (Shahih Muslim No.1012)
*
Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:
Aku dan beberapa orang sahabat yang datang di perahu bersamaku singgah di wilayah Buth-han. Saat itu, Rasulullah saw. berada di Madinah. Rasulullah saw. menggilir beberapa orang dari mereka untuk solat Isyak. Kata Abu Musa: Saat itu aku dan beberapa orang sahabatku mendapati Rasulullah saw. sedang disibukkan oleh urusannya. Jadi, beliau mengakhirkan salat sampai tengah malam. Kemudian Rasulullah saw. keluar dan solat bersama mereka. Selesai solat beliau bersabda kepada para sahabat: Tenanglah. Aku akan memberitahu dan memberikan kabar gembira kepada kalian bahwa di antara nikmat Allah yang diberikan kepada kalian ialah bahawa sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun yang solat di saat seperti ini selain kalian atau (kata beliau) tidak ada seorang pun yang solat selain kalian. Kami tidak tahu kata yang mana yang beliau ucapkan. Abu Musa berkata: Lalu kami pulang dengan perasaan gembira karena berita yang kami dengar dari Rasulullah. (Shahih Muslim No.1014)
*
Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:
Pada suatu malam Nabi saw. mengakhirkan solat Isyak, hingga para sahabat tertidur lalu bangun, kemudian tertidur dan terbangun lagi. Umar datang dan berkata: Mari solat, lalu Atha berkata: Ibnu Abbas berkata: Nabi saw. lalu keluar, waktu itu aku melihat kepalanya masih menitiskan air dan beliau meletakkan tangannya pada sisi kepala. Beliau bersabda: Kalau saja hal itu tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk melakukan solat Isyak pada waktu sekarang ini. Aku lalu meminta penjelasan Atha bagaimana Rasulullah saw. meletakkan tangannya di kepalanya sebagaimana yang diterangkan oleh Ibnu Abbas. Dan Atha pun mempraktikkannya. Mula-mula Atha merenggangkan sedikit jari-jarinya. Kemudian beliau meletakkan ujung-ujung jemarinya pada bahagian tengah atau pusat kepala kemudian ia memutar-mutarkannya sampai ibu jarinya menyentuh ujung telinga dan bagian yang dekat wajahnya, kemudian terus ke bahagian pelipis dan janggutnya, tidak kurang dan tidak lebih sedikit pun. (Shahih Muslim No.1015)
Hadis riwayat Aisyah ra., isteri Rasulullah saw. ia berkata
Pada suatu malam Rasulullah saw. mengakhirkan solat Isyak hingga suasana gelap sekali. Rasulullah saw. belum keluar (dari rumah untuk solat Isyak) sampai Umar bin Khathab berkata: Para wanita dan anak-anak sudah tidur. Kemudian Rasulullah saw. keluar kemudian beliau bersabda kepada para sahabat yang ada di masjid: Tidak ada seorang pun di antara penghuni bumi ini yang menunggunya selain kalian sebelum Islam tersiar di masyarakat. (Shahih Muslim No.1008)
*
Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata:
Suatu malam saya menanti Rasulullah saw. untuk melakukan solat Isyak yang diakhirkan. Kemudian beliau datang kepada kami ketika sepertiga malam atau lebih telah lewat. Kami tidak tahu apa yang membuatnya sibuk pada keluarganya atau lainnya. Ketika keluar beliau bersabda: Sesungguhnya engkau sedang menunggu suatu solat yang tidak pernah ditunggu oleh orang-orang pemeluk agama selain kalian. Sekiranya hal itu tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan ajak mereka solat pada saat seperti ini. Lalu beliau menyuruh Muazin mengiqamati lalu salat. (Shahih Muslim No.1010)
*
Hadis riwayat Anas ra.:
Dari Tsabit bahawa mereka (para sahabat) bertanya kepada Anas tentang cincin yang dikenakan Rasulullah saw. Ia berkata: Pada suatu malam Rasulullah saw. mengakhirkan solat Isyak hingga setengah malam atau bahkan lebih. Kemudian beliau datang dan bersabda: Sesungguhnya orang-orang setelah solat lantas tidur. Sementara kalian masih menunggu solat. Setelah itu kata Anas: Saya seolah-olah melihat cincin beliau yang terbuat dari perak begitu berkilat saat beliau mengangkat jari kelingking kirinya. (Shahih Muslim No.1012)
*
Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:
Aku dan beberapa orang sahabat yang datang di perahu bersamaku singgah di wilayah Buth-han. Saat itu, Rasulullah saw. berada di Madinah. Rasulullah saw. menggilir beberapa orang dari mereka untuk solat Isyak. Kata Abu Musa: Saat itu aku dan beberapa orang sahabatku mendapati Rasulullah saw. sedang disibukkan oleh urusannya. Jadi, beliau mengakhirkan salat sampai tengah malam. Kemudian Rasulullah saw. keluar dan solat bersama mereka. Selesai solat beliau bersabda kepada para sahabat: Tenanglah. Aku akan memberitahu dan memberikan kabar gembira kepada kalian bahwa di antara nikmat Allah yang diberikan kepada kalian ialah bahawa sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun yang solat di saat seperti ini selain kalian atau (kata beliau) tidak ada seorang pun yang solat selain kalian. Kami tidak tahu kata yang mana yang beliau ucapkan. Abu Musa berkata: Lalu kami pulang dengan perasaan gembira karena berita yang kami dengar dari Rasulullah. (Shahih Muslim No.1014)
*
Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:
Pada suatu malam Nabi saw. mengakhirkan solat Isyak, hingga para sahabat tertidur lalu bangun, kemudian tertidur dan terbangun lagi. Umar datang dan berkata: Mari solat, lalu Atha berkata: Ibnu Abbas berkata: Nabi saw. lalu keluar, waktu itu aku melihat kepalanya masih menitiskan air dan beliau meletakkan tangannya pada sisi kepala. Beliau bersabda: Kalau saja hal itu tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk melakukan solat Isyak pada waktu sekarang ini. Aku lalu meminta penjelasan Atha bagaimana Rasulullah saw. meletakkan tangannya di kepalanya sebagaimana yang diterangkan oleh Ibnu Abbas. Dan Atha pun mempraktikkannya. Mula-mula Atha merenggangkan sedikit jari-jarinya. Kemudian beliau meletakkan ujung-ujung jemarinya pada bahagian tengah atau pusat kepala kemudian ia memutar-mutarkannya sampai ibu jarinya menyentuh ujung telinga dan bagian yang dekat wajahnya, kemudian terus ke bahagian pelipis dan janggutnya, tidak kurang dan tidak lebih sedikit pun. (Shahih Muslim No.1015)
Saturday, July 4, 2009
LOGO BARU JANNAH

ASSALAMUALAIKUM SAHABAT-SAHABAT SEKALIAN...
DISINI ANA TELAH SERTAKAN LOGO BARU JANNAH YANG TELAH SIAP ANA EDIT, JIKA TERDAPAT KOMEN ATAU SEBARANG PENAMBAHBAIKAN TERHADAP LOGO TERSEBUT SILA RESPON KEPADA ANA LUQMAN HAKEEM DI BILIK JANNAH ATAUPUN KEPADA EXCO2 YANG LAIN.
UNTUK PENGETAHUAN SAHABAT-SAHABAT SEKALIAN LOGO TERSEBUT AKAN DILANCARKAN INSYA'ALLAH PADA MINGGU AL-QURAN DAN AS-SUNNAH NANTI JIKALAU TIDAK SILAP PADA BULAN OGOS AKAN DATANG BESERTA DENGAN PELANCARAN BLOG DAN WEBSITE CHAT FORUM JANNAH JIKA SEMPAT DI SETTING...
SEKIAN DULU DARIPADA ANA...ANA DAHULUKAN DENGAN UCAPAN ASSALAMUALAIKUM...
Tuesday, June 16, 2009
KITAB MUNTAKHAB AL-KALAM FI TAFSIR AL-AHLAM
Oleh Sakinah Saptu
PENGENALAN
Kitab Muntakhab al-Kalam Fi Tafsir al-Ahlam yang dinisbahkan kepada Abu Bakar Muhammad Ibn Sirin mengandungi 59 bab yang membincangkan mengenai ta’bir mimpi sama ada mimpi itu adalah mimpi yang buruk ataupun mimpi yang baik. Ia disusun bab demi bab dimulai dengan bab seorang hamba melihat dirinya di tangan Allah s.w.t di dalam tidurnya dan di akhiri dengan bab menyebut kisah-kisah mimpi sebahagian orang-orang saleh r.a.
Kitab ini dimulai dengan mukaddimah kitab kemudian diikuti dengan khutbah kitab. Perkara-perkara yang dibahaskan di dalam mukaddimah kitab ialah:
1- Ta’bir mimpi yang pelbagai
2- Kaedah umum dalam menta’bir mimpi
2.1 Adab ta’bir mimpi
2.2 Waktu dalam menta’bir mimpi
2.3 Mimpi yang boleh dipercayai
2.4 Beberapa prinsip penta’bir dalam menta’bir mimpi
2.5 Mentafsir mimpi berdasarkan watak, waktu dan kebiasaan
3- Kedudukan roh dan jiwa dalam mimpi
4- Mentafsir mimpi dengan Nama, makna dan peribahasa yang sering dipakai
5- Mimpi yang paling benar
6- Perkara yang perlu dilakukan ketika bermimpi sesuatu yang tidak disukai (mimpi buruk)
Manakala di dalam khutbah kitab pula ia membincangkan mengenai perkara-perkara berikut:
1- Hakikat mimpi dalam ilmu syariat
2- Hal-hal yang diperlukan oleh orang yang bermimpi untuk membuktikan kebenaran mimpinya
3- Dua jenis mimpi yang hak dan yang batil
4- Adab penta’bir mimpi
Abd al-Rahman al-Juzu menyatakan di dalam kitab tahqiqnya bahawa manuskrip kitab ini terdapat di Dar-al-Kutub, Mesir dan Iskandariah. Kitab ini juga telah di cetak di Bulaq pada tahun 1284H dan pada tahun yang sama juga ia telah dijadikan sebagai هامش (catatan ditepi kitab) untuk kitab Ta’thir al-Anam oleh al-Nablusi yang mana telah diulang cetak beberapa kali di Lucknow pada tahun 1874M dan di Bombay pada tahun 1296H. Kitab ini juga telah diulang cetak dengan versi yang baru (disusun semula untuk memudahkan pembacaan) dan diterbitkan oleh beberapa penerbit di Beirut, Damsyik dan Kahirah(1). Malah kitab ini juga telah ditahqiq dan diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa seperti Bahasa Melayu, Inggeris, Indonesia dan kemungkinan juga di dalam bahasa-bahasa yang lain.
MENGAPA IA DIKATAKAN KITAB YANG DINISBAHKAN KEPADA IBN SIRIN
Perlu diketahui bahawa Kitab Muntakhab al-Kalam Fi Tafsir al-Ahlam yang dinisbahkan kepada Ibn Sirin adalah nisbah yang salah, malah dengan mengatakan ia sebagai kitab karangan Ibn Sirin juga merupakan satu kenyataan yang silap. Ia sebenarnya adalah karangan Abu Sa’ad (Sa’id) Abd al-Malik al-Wa’iz al-Kharkusyi. Nama kitabnya pula ialah al-Basyarah Wa al-Nadharah. Kesalahan menisbahkan kitab ini kepada Ibn Sirin ataupun mengakui ia adalah hasil karya Ibn Sirin telah diikuti dari zaman ke zaman hinggalah pada hari ini.
Abd Al-Rahman al-Juzu telah menyenaraikan dengan jelas bukti yang menunjukkan bahawa ia bukanlah kitab karangan Ibn Sirin dan ia hanya sebuah kitab yang dinisbahkan kepada beliau itupun dengan nisbah yang salah. Menurut Abd al-Rahman dengan meneliti kitab itu sendiri dapat dilihat tanda-tanda yang jelas bahawa sebahagian atau beberapa bahagian daripada kitab tersebut bukanlah daripada Ibn Sirin. Ini kerana di dalam kitab itu menyebut nama-nama mereka yang lahir, hidup dan juga meninggal dunia selepas Ibn Sirin meninggal dunia dengan jarak masa yang begitu jauh, ataupun di dalam kitab tersebut ada menyatakan kisah-kisah yang berlaku pada zaman selepas Ibn Sirin(2). Di antara contohnya ialah:
1- Di dalam khutbah kitab tersebut sering menyebut nama Abu Sa’id al-Wa’iz, contoh:
قال الأستاذ أبو سعيد الواعظ رضى الله عنه) أما بعد فإنه لما كانت الرؤيا الصحيحة في الأصل المنبئة عن حقائق الأعمال منبهة على عواقب الأمور
Kata-kata ini yang sering disebut di awal kebanyakan perenggan menunjukkan dengan jelas bahawa kitab ini adalah dari hasil himpunan atau penulisan Abu Sa’id al-Wa’iz.
2- Terdapat di dalam khutbah kitab nama-nama berikut:
الأصمعي عن ابن المقدام
اسحاق بن ابراهيم الموصلي
جعفر بن جعفر بن محمد الفريابي
Al-Asma’iy lahir pada tahun 122H, Ishaq al-Musli lahir pada tahun 155H, Ja’far bin Muhammad al-Faryabi pada tahun 257H sedangkan Ibn Sirin meninggal dunia pada tahun 110H. Bagaimana pula Ibn Sirin boleh meletakkan nama mereka di dalam penulisannya sedangkan ketiga orang tersebut belum lagi lahir sewaktu Ibn Sirin masih hidup?
3- Kitab ini meriwayatkan daripada al-Kirmani, al-Salimi dan al-Qairawani. Mereka adalah ulama’ selepas Ibn Sirin. Ishaq al-Kirmani contohnya merupakan ulama’ pada kurun ke empat hijrah manakala al-Salimi adalah di kalangan ulama’ kurun ke lapan hijrah.
4- Di dalam kitab ini juga memuatkan mimpi yang dilihat oleh mereka yang hidup selepas Ibn Sirin, antaranya:
1- Di dalam bab 2:
Daripada Abu al-Wafa’ al-Farisi al-Harawi telah berkata: “Aku telah melihat al-Mustafa s.a.w di dalam tidur di Farghanah pada tahun 360H”.
Teks ini menyatakan bahawa Abu al-Wafa’ telah bermimpi melihat Rasulullah s.a.w di dalam tidurnya pada tahun 360H, sedangkan pada tahun tersebut Ibn Sirin sudah meninggal dunia. Dengan itu, bagaimana kitab ta’bir ini boleh dikatakan salah satu daripada karya Ibn Sirin?.
2- Di dalam bab 23:
“Dan amir al-Mukminin Harun al-Rasyid telah bermimpi…”
Di dalam kitab ini juga menyebut nama Harun al-Rasyid yang lahir pada tahun 149H sedangkan Ibn Sirin meninggal dunia pada tahun 110H.
3- Dalam bab 31:
“Dan diceritakan bahawa Al-Syafi’i r.a bermimpi di dalam penjara seolah-olah dia di salib…”
Di kitab ini juga menyebut nama Imam al-Syafi’i sedangkan beliau lahir pada tahun 150H.
4- Di dalam bab 43:
Abu Ubaidah telah berkata: “Aku bermimpi pelita masjid terpadam, maka Mus’ir bin Kidam telah meninggal dunia…”
Di dalam kitab ini juga menyebut nama Abu Ubaidah yang lahir pada tahun 110H sedangkan pada tahun yang sama Ibn Sirin meninggal dunia dan ia juga menyebut nama Mus’ir bin Kidam yang meninggal dunia pada tahun 152H.
Daripada kenyataan dan contoh-contoh yang dikemukakan oleh Abd al-Rahman al-Juzu, dapat diakui bahawa penisbahan kitab ini kepada Ibn Sirin adalah satu nisbah yang salah kerana kebanyakan daripada isi kandungannya bukanlah daripada Ibn Sirin, apatahlagi setelah dikaji semula kita dapati kitab ini dihasilkan pada jarak masa yang jauh selepas Ibn Sirin, iaitu ia dihasilkan atau dikumpulkan oleh Abu Sa’id al-Wa’iz yang meninggal dunia pada tahun 407H.
Mengenali Pengarang Sebenar Kitab Tafsir Mimpi Ibn Sirin
Beliau ialah Abu Sa’ad (Sa’id) Abd al-Malik bin Abu Uthman Muhammad bin Ibrahim, al-Naisaburiyy al-Wa’iz. Beliau merupakan seorang zuhud yang lebih dikenali dengan nama al-Kharkushi(3).Di dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala’ menyatakan beliau sebagai al-Imam Qudwah dan Syaikh al-Islam.
Al-Kharkushi telah mengarang kitab (دلائل النبوة), kitab (التفسير), kitab (الزهد) dan lain-lain(4). Al-Hakim berkata:
“Sesungguhnya aku tidak melihat (selain al-Kharkushi) yang mengumpul padanya ilmu, zuhud, tawadhu’, menunjuk ke jalan Allah dan kepada kezuhudan di dunia, Allah menambah padanya taufik, dan menggembirakan kami dengan hari-harinya. Sesungguhnya hasil karyanya telah tersebar di kalangan muslimin”(5)
Al-Khatib pula berkata: “Al-Kharkushi adalah seorang yang thiqah, wara’ dan saleh”(6).
Dinyatakan bahawa orang-orang fakir di dalam majlisnya dilayan seperti para pemimpin. Beliau juga membuat kopiah dan menjualnya. Selain daripada itu, beliau juga membina madrasah dan rumah untuk orang sakit lalu mewakafkan keduanya dan mewakafkan sebuah peti besi yang besar berisi buku-buku.
Muhammad bin Ubaidullah al-Sarim berkata: Aku melihat al-Ustaz Abu Sa’ad al-Zahid di Musalla ketika mengimamkan solat Istisqa’, aku mendengarnya berdoa’(7):
إليك جئنا و أنت جئت بنا وليس رب سواك يغنينا
بابك رحب فناؤه كرم تؤوي إلى بابك المساكينا
Ibn ‘Asakir berkata beliau adalah seorang Asy’ari. Beliau meninggal dunia pada bulan Jamadil awal pada tahun 407H.
METODOLOGI PENULISAN
Setiap penulisan buku mempunyai metodologinya yang tersendiri. Metodologi penulisan sebuah buku itu mampu memperlihatkan keistimewaan dan kelemahan yang terdapat pada hasil karya seorang penulis. Untuk metodologi penulisan kitab Muntakhab al-Kalam Fi Tafsir al-Ahlam, pengkaji memberikan perhatian dari sudut gaya bahasanya, keistimewaan dan kelemahannya.
(1)Gaya Bahasa
Kitab ini menggunakan bahasa yang mudah untuk difahami. Ia tidak menggunakan bahasa sastera yang tinggi. Jika ada pun, ia hanya menggunakan perkataan-perkataan yang agak sukar untuk difahami. Keadaan ini dapat dilihat apabila banyak pentahqiq kitab ini seperti Abd al-Rahman al-Juzu, Yusuf al-Shaikh Muhammad, Saleh Uthman Abd al-Hamid, Samar Muhammad Dahir, dan Zuhair Syafiq al-Kabby tidak mengabaikan dalam memberikan makna atau menjelaskan maksud beberapa perkataan-perkataan yang terdapat di dalam kitab ini, malah ada juga di antara mereka yang hanya menumpukan kepada aspek ini sahaja untuk kitab tahqiq mereka.
Di samping itu pengkaji melihat ia lebih menggunakan teknik straight to the point kepada mimpi-mimpi yang dita’birkan. Tidak ada penerangan yang lebih terperinci diberikan kepada setiap mimpi yang dita’bir. Ia hanya mengemukakan objek ataupun perkara yang dimimpikan lalu memberikan makna mimpi tersebut. Sebagai contoh, di dalam bab 1 menyatakan:
قال الأستاذ أبو سعيد رضي الله عنه : من رأى في منامه كأنه قائم بين يدى الله تعالى و الله تعالى ينظر إليه فإن كان الرائى من الصالحين فرؤياه رؤيا رحمة
Di dalam kenyataan di atas, Abu Sa’id mengatakan sesiapa yang bermimpi di dalam tidurnya seoalah-olah ia berada di hadapan tangan Allah s.w.t dan Allah s.w.t melihatnya dan jika sekiranya yang bermimpi itu adalah di kalangan orang yang saleh maka mimpinya adalah mimpi rahmat. Banyak lagi contoh-contoh lain yang boleh didapati di dalam kitab Muntakhab tentang teknik straight to the point ini.
(2) Keistimewaan
Kitab Muntakhab al-Kalam Fi Tafsir al-Ahlam mempunyai banyak keistimewaannya. Ia bukan sekadar sebuah kitab yang memainkan peranannya untuk menta’birkan mimpi, tetapi ia juga banyak membahaskan mengenai ilmu menta’bir mimpi dari sudut syariat. Perbahasan ini seperti mana yang telah disebut oleh pengkaji di dalam pengenalan bab ini boleh didapati di dalam mukaddimah kitab dan khutbah kitabnya(8).
Manakala jika hendak dibandingkan kitab ini dengan Kitab Ta’thir al-Anam Fi Ta’bir al-Manam oleh al-Nablusi dan Kitab al-Isyarat Fi Ilmi al-‘Ibarat oleh Ibn Syahin, kitab Muntakhab lebih mempunyai keistimewaannya. Ini kerana ia sering diutarakan atau dikemukakan sebagai kitab ta’bir mimpi yang berpandukan kepada al-Quran dan al-Sunnah lantaran terdapat ta’biran mimpinya yang disertai bersama ayat al-Quran atau al-hadith(9). Malah bukan itu sahaja, bahkan ianya juga sering memuatkan pendapat-pendapat yang bersanad yang menceritakan mimpi mereka serta maksud daripada mimpi tersebut.
(3) Kelemahan
Abd Rahman al-Juzu menyatakan bahawa walaupun kitab ini dikatakan berpandukan kepada al-Quran dan al-Sunnah, kebanyakan daripadanya tidak mempunyai kaitan langsung dengan apa yang dita’birkan oleh penulis kitab(10). Bahkan melalui pemerhatian pengkaji pula tidak semua ta’bir mimpi disertakan dengan dalil-dalil daripada al-Quran dan al-Sunnah, ada juga ta’bir mimpi yang kebanyakannya hanya berdasarkan daripada kata-kata penulis sahaja yang dimulakan dengan ayat ini:
(قال الأستاذ أبو سعيد الواعظ رضى الله عنه)
Perkara ini boleh dikira sebagai perkara yang melemahkan penulisan kitab ini. Tambahan pula, kitab ini juga memuatkan hadith-hadith yang tidak dinyatakan hukum hadithnya.
Kitab ini juga sering membahaskan mengenai perkara yang sama secara berulang-ulang di dalam bab yang berbeza. Ia juga tidak mempunyai penditilan untuk setiap bab yang dikemukakan. Manakala tajuk babnya diletakkan dengan tajuk yang panjang agar setiap inci perkara yang dibahaskan dimuatkan di dalam tajuk-tajuknya.
Dari segi susun aturnya pula, sepertimana kitab-kitab lama yang lain, ia tidak mempunyai perenggan, tanda koma dan noktah.
KESIMPULAN
Melalui perbahasan tadi, dapat dikenalpasti bahawa kitab ini bukanlah hasil karya Ibn Sirin. Hakikatnya ia merupakan sebuah penulisan atau himpunan yang diusahakan oleh al-Kharkushi. Pengkaji berpendapat bahawa perkara ini perlu diambil perhatian oleh setiap penterjemah, pentahqiq dan penyusun kitab muntakhab agar kesilapan ini dapat dijelaskan di dalam hasil kerja mereka sebagai maklumat kepada pembaca kitab ta’bir mimpi yang popular ini.
Keistimewaan kitab ini dilihat dari sudut isinya yang dikatakan berpandukan kepada al-Quran dan al-Hadith. Kitab ini juga dianggap istimewa kerana ia bukanlah kitab ta’bir mimpi semata tetapi ia turut memuatkan perbahasan yang amat menarik berkenaan ilmu ta’bir mimpi dari sudut syariat. Namun begitu, ia juga tidak lari dari kelemahan-kelemahan (sepertimana yang telah dinyatakan pada perbahasan di atas) sebagai sebuah kitab tua yang dihasilkan beribu tahun dahulu.
_____________________________
(1) Al-Juzu, Abd Al-Rahman, Muntakhab al-Kalam Fi Tafsir al-Ahlam, Dar Maktabah al-Hayah, Beirut, 1995, hlm 20-21.
(2) Ibid, hlm 22.
(3) Kharkushi merupakan sebuah nama jalan yang terdapat di bandar Naisabur.
(4) Al-Dhahabi, Syams al-Din Muhammad bin Ahmad, Siyar A'lam al-Nubala’, Muassasah al-Risalah, Beirut, 1990, Juz 17, hlm 162.
(5) Ibid.
(6) Ibid.
(7) Ibid.
(8) Rujuk pada bahagian Pengenalan.
(9) Ayat-ayat al-Quran lebih banyak dimuatkan jika dibandingkan dengan al-Hadith.
(10) Al-Juzu, hlm 21.
Nota:
Artikel ini merupakan salah satu bab yang terkandung di dalam Latihan Ilmiah (tesis) penulis bertajuk 'Kajian Hadith Kitab Muntakhab al-Kalam Fi Tafsir al-Ahlam Yang Dinisbahkan Kepada Muhammad Ibn Sirin’. Ianya telah disemak oleh Dr Azwira Abd Aziz, pensyarah kanan Jabatan al-Quran dan al-Sunnah yang bertindak selaku penyelia penulis dalam menghasilkan kajian ini. Semoga maklumat yang terdapat di dalam artikel ini, sedikit sebanyak memberikan manfaat kepada semua. Sekian Wallahua’lam.
PENGENALAN
Kitab Muntakhab al-Kalam Fi Tafsir al-Ahlam yang dinisbahkan kepada Abu Bakar Muhammad Ibn Sirin mengandungi 59 bab yang membincangkan mengenai ta’bir mimpi sama ada mimpi itu adalah mimpi yang buruk ataupun mimpi yang baik. Ia disusun bab demi bab dimulai dengan bab seorang hamba melihat dirinya di tangan Allah s.w.t di dalam tidurnya dan di akhiri dengan bab menyebut kisah-kisah mimpi sebahagian orang-orang saleh r.a.
Kitab ini dimulai dengan mukaddimah kitab kemudian diikuti dengan khutbah kitab. Perkara-perkara yang dibahaskan di dalam mukaddimah kitab ialah:
1- Ta’bir mimpi yang pelbagai
2- Kaedah umum dalam menta’bir mimpi
2.1 Adab ta’bir mimpi
2.2 Waktu dalam menta’bir mimpi
2.3 Mimpi yang boleh dipercayai
2.4 Beberapa prinsip penta’bir dalam menta’bir mimpi
2.5 Mentafsir mimpi berdasarkan watak, waktu dan kebiasaan
3- Kedudukan roh dan jiwa dalam mimpi
4- Mentafsir mimpi dengan Nama, makna dan peribahasa yang sering dipakai
5- Mimpi yang paling benar
6- Perkara yang perlu dilakukan ketika bermimpi sesuatu yang tidak disukai (mimpi buruk)
Manakala di dalam khutbah kitab pula ia membincangkan mengenai perkara-perkara berikut:
1- Hakikat mimpi dalam ilmu syariat
2- Hal-hal yang diperlukan oleh orang yang bermimpi untuk membuktikan kebenaran mimpinya
3- Dua jenis mimpi yang hak dan yang batil
4- Adab penta’bir mimpi
Abd al-Rahman al-Juzu menyatakan di dalam kitab tahqiqnya bahawa manuskrip kitab ini terdapat di Dar-al-Kutub, Mesir dan Iskandariah. Kitab ini juga telah di cetak di Bulaq pada tahun 1284H dan pada tahun yang sama juga ia telah dijadikan sebagai هامش (catatan ditepi kitab) untuk kitab Ta’thir al-Anam oleh al-Nablusi yang mana telah diulang cetak beberapa kali di Lucknow pada tahun 1874M dan di Bombay pada tahun 1296H. Kitab ini juga telah diulang cetak dengan versi yang baru (disusun semula untuk memudahkan pembacaan) dan diterbitkan oleh beberapa penerbit di Beirut, Damsyik dan Kahirah(1). Malah kitab ini juga telah ditahqiq dan diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa seperti Bahasa Melayu, Inggeris, Indonesia dan kemungkinan juga di dalam bahasa-bahasa yang lain.
MENGAPA IA DIKATAKAN KITAB YANG DINISBAHKAN KEPADA IBN SIRIN
Perlu diketahui bahawa Kitab Muntakhab al-Kalam Fi Tafsir al-Ahlam yang dinisbahkan kepada Ibn Sirin adalah nisbah yang salah, malah dengan mengatakan ia sebagai kitab karangan Ibn Sirin juga merupakan satu kenyataan yang silap. Ia sebenarnya adalah karangan Abu Sa’ad (Sa’id) Abd al-Malik al-Wa’iz al-Kharkusyi. Nama kitabnya pula ialah al-Basyarah Wa al-Nadharah. Kesalahan menisbahkan kitab ini kepada Ibn Sirin ataupun mengakui ia adalah hasil karya Ibn Sirin telah diikuti dari zaman ke zaman hinggalah pada hari ini.
Abd Al-Rahman al-Juzu telah menyenaraikan dengan jelas bukti yang menunjukkan bahawa ia bukanlah kitab karangan Ibn Sirin dan ia hanya sebuah kitab yang dinisbahkan kepada beliau itupun dengan nisbah yang salah. Menurut Abd al-Rahman dengan meneliti kitab itu sendiri dapat dilihat tanda-tanda yang jelas bahawa sebahagian atau beberapa bahagian daripada kitab tersebut bukanlah daripada Ibn Sirin. Ini kerana di dalam kitab itu menyebut nama-nama mereka yang lahir, hidup dan juga meninggal dunia selepas Ibn Sirin meninggal dunia dengan jarak masa yang begitu jauh, ataupun di dalam kitab tersebut ada menyatakan kisah-kisah yang berlaku pada zaman selepas Ibn Sirin(2). Di antara contohnya ialah:
1- Di dalam khutbah kitab tersebut sering menyebut nama Abu Sa’id al-Wa’iz, contoh:
قال الأستاذ أبو سعيد الواعظ رضى الله عنه) أما بعد فإنه لما كانت الرؤيا الصحيحة في الأصل المنبئة عن حقائق الأعمال منبهة على عواقب الأمور
Kata-kata ini yang sering disebut di awal kebanyakan perenggan menunjukkan dengan jelas bahawa kitab ini adalah dari hasil himpunan atau penulisan Abu Sa’id al-Wa’iz.
2- Terdapat di dalam khutbah kitab nama-nama berikut:
الأصمعي عن ابن المقدام
اسحاق بن ابراهيم الموصلي
جعفر بن جعفر بن محمد الفريابي
Al-Asma’iy lahir pada tahun 122H, Ishaq al-Musli lahir pada tahun 155H, Ja’far bin Muhammad al-Faryabi pada tahun 257H sedangkan Ibn Sirin meninggal dunia pada tahun 110H. Bagaimana pula Ibn Sirin boleh meletakkan nama mereka di dalam penulisannya sedangkan ketiga orang tersebut belum lagi lahir sewaktu Ibn Sirin masih hidup?
3- Kitab ini meriwayatkan daripada al-Kirmani, al-Salimi dan al-Qairawani. Mereka adalah ulama’ selepas Ibn Sirin. Ishaq al-Kirmani contohnya merupakan ulama’ pada kurun ke empat hijrah manakala al-Salimi adalah di kalangan ulama’ kurun ke lapan hijrah.
4- Di dalam kitab ini juga memuatkan mimpi yang dilihat oleh mereka yang hidup selepas Ibn Sirin, antaranya:
1- Di dalam bab 2:
Daripada Abu al-Wafa’ al-Farisi al-Harawi telah berkata: “Aku telah melihat al-Mustafa s.a.w di dalam tidur di Farghanah pada tahun 360H”.
Teks ini menyatakan bahawa Abu al-Wafa’ telah bermimpi melihat Rasulullah s.a.w di dalam tidurnya pada tahun 360H, sedangkan pada tahun tersebut Ibn Sirin sudah meninggal dunia. Dengan itu, bagaimana kitab ta’bir ini boleh dikatakan salah satu daripada karya Ibn Sirin?.
2- Di dalam bab 23:
“Dan amir al-Mukminin Harun al-Rasyid telah bermimpi…”
Di dalam kitab ini juga menyebut nama Harun al-Rasyid yang lahir pada tahun 149H sedangkan Ibn Sirin meninggal dunia pada tahun 110H.
3- Dalam bab 31:
“Dan diceritakan bahawa Al-Syafi’i r.a bermimpi di dalam penjara seolah-olah dia di salib…”
Di kitab ini juga menyebut nama Imam al-Syafi’i sedangkan beliau lahir pada tahun 150H.
4- Di dalam bab 43:
Abu Ubaidah telah berkata: “Aku bermimpi pelita masjid terpadam, maka Mus’ir bin Kidam telah meninggal dunia…”
Di dalam kitab ini juga menyebut nama Abu Ubaidah yang lahir pada tahun 110H sedangkan pada tahun yang sama Ibn Sirin meninggal dunia dan ia juga menyebut nama Mus’ir bin Kidam yang meninggal dunia pada tahun 152H.
Daripada kenyataan dan contoh-contoh yang dikemukakan oleh Abd al-Rahman al-Juzu, dapat diakui bahawa penisbahan kitab ini kepada Ibn Sirin adalah satu nisbah yang salah kerana kebanyakan daripada isi kandungannya bukanlah daripada Ibn Sirin, apatahlagi setelah dikaji semula kita dapati kitab ini dihasilkan pada jarak masa yang jauh selepas Ibn Sirin, iaitu ia dihasilkan atau dikumpulkan oleh Abu Sa’id al-Wa’iz yang meninggal dunia pada tahun 407H.
Mengenali Pengarang Sebenar Kitab Tafsir Mimpi Ibn Sirin
Beliau ialah Abu Sa’ad (Sa’id) Abd al-Malik bin Abu Uthman Muhammad bin Ibrahim, al-Naisaburiyy al-Wa’iz. Beliau merupakan seorang zuhud yang lebih dikenali dengan nama al-Kharkushi(3).Di dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala’ menyatakan beliau sebagai al-Imam Qudwah dan Syaikh al-Islam.
Al-Kharkushi telah mengarang kitab (دلائل النبوة), kitab (التفسير), kitab (الزهد) dan lain-lain(4). Al-Hakim berkata:
“Sesungguhnya aku tidak melihat (selain al-Kharkushi) yang mengumpul padanya ilmu, zuhud, tawadhu’, menunjuk ke jalan Allah dan kepada kezuhudan di dunia, Allah menambah padanya taufik, dan menggembirakan kami dengan hari-harinya. Sesungguhnya hasil karyanya telah tersebar di kalangan muslimin”(5)
Al-Khatib pula berkata: “Al-Kharkushi adalah seorang yang thiqah, wara’ dan saleh”(6).
Dinyatakan bahawa orang-orang fakir di dalam majlisnya dilayan seperti para pemimpin. Beliau juga membuat kopiah dan menjualnya. Selain daripada itu, beliau juga membina madrasah dan rumah untuk orang sakit lalu mewakafkan keduanya dan mewakafkan sebuah peti besi yang besar berisi buku-buku.
Muhammad bin Ubaidullah al-Sarim berkata: Aku melihat al-Ustaz Abu Sa’ad al-Zahid di Musalla ketika mengimamkan solat Istisqa’, aku mendengarnya berdoa’(7):
إليك جئنا و أنت جئت بنا وليس رب سواك يغنينا
بابك رحب فناؤه كرم تؤوي إلى بابك المساكينا
Ibn ‘Asakir berkata beliau adalah seorang Asy’ari. Beliau meninggal dunia pada bulan Jamadil awal pada tahun 407H.
METODOLOGI PENULISAN
Setiap penulisan buku mempunyai metodologinya yang tersendiri. Metodologi penulisan sebuah buku itu mampu memperlihatkan keistimewaan dan kelemahan yang terdapat pada hasil karya seorang penulis. Untuk metodologi penulisan kitab Muntakhab al-Kalam Fi Tafsir al-Ahlam, pengkaji memberikan perhatian dari sudut gaya bahasanya, keistimewaan dan kelemahannya.
(1)Gaya Bahasa
Kitab ini menggunakan bahasa yang mudah untuk difahami. Ia tidak menggunakan bahasa sastera yang tinggi. Jika ada pun, ia hanya menggunakan perkataan-perkataan yang agak sukar untuk difahami. Keadaan ini dapat dilihat apabila banyak pentahqiq kitab ini seperti Abd al-Rahman al-Juzu, Yusuf al-Shaikh Muhammad, Saleh Uthman Abd al-Hamid, Samar Muhammad Dahir, dan Zuhair Syafiq al-Kabby tidak mengabaikan dalam memberikan makna atau menjelaskan maksud beberapa perkataan-perkataan yang terdapat di dalam kitab ini, malah ada juga di antara mereka yang hanya menumpukan kepada aspek ini sahaja untuk kitab tahqiq mereka.
Di samping itu pengkaji melihat ia lebih menggunakan teknik straight to the point kepada mimpi-mimpi yang dita’birkan. Tidak ada penerangan yang lebih terperinci diberikan kepada setiap mimpi yang dita’bir. Ia hanya mengemukakan objek ataupun perkara yang dimimpikan lalu memberikan makna mimpi tersebut. Sebagai contoh, di dalam bab 1 menyatakan:
قال الأستاذ أبو سعيد رضي الله عنه : من رأى في منامه كأنه قائم بين يدى الله تعالى و الله تعالى ينظر إليه فإن كان الرائى من الصالحين فرؤياه رؤيا رحمة
Di dalam kenyataan di atas, Abu Sa’id mengatakan sesiapa yang bermimpi di dalam tidurnya seoalah-olah ia berada di hadapan tangan Allah s.w.t dan Allah s.w.t melihatnya dan jika sekiranya yang bermimpi itu adalah di kalangan orang yang saleh maka mimpinya adalah mimpi rahmat. Banyak lagi contoh-contoh lain yang boleh didapati di dalam kitab Muntakhab tentang teknik straight to the point ini.
(2) Keistimewaan
Kitab Muntakhab al-Kalam Fi Tafsir al-Ahlam mempunyai banyak keistimewaannya. Ia bukan sekadar sebuah kitab yang memainkan peranannya untuk menta’birkan mimpi, tetapi ia juga banyak membahaskan mengenai ilmu menta’bir mimpi dari sudut syariat. Perbahasan ini seperti mana yang telah disebut oleh pengkaji di dalam pengenalan bab ini boleh didapati di dalam mukaddimah kitab dan khutbah kitabnya(8).
Manakala jika hendak dibandingkan kitab ini dengan Kitab Ta’thir al-Anam Fi Ta’bir al-Manam oleh al-Nablusi dan Kitab al-Isyarat Fi Ilmi al-‘Ibarat oleh Ibn Syahin, kitab Muntakhab lebih mempunyai keistimewaannya. Ini kerana ia sering diutarakan atau dikemukakan sebagai kitab ta’bir mimpi yang berpandukan kepada al-Quran dan al-Sunnah lantaran terdapat ta’biran mimpinya yang disertai bersama ayat al-Quran atau al-hadith(9). Malah bukan itu sahaja, bahkan ianya juga sering memuatkan pendapat-pendapat yang bersanad yang menceritakan mimpi mereka serta maksud daripada mimpi tersebut.
(3) Kelemahan
Abd Rahman al-Juzu menyatakan bahawa walaupun kitab ini dikatakan berpandukan kepada al-Quran dan al-Sunnah, kebanyakan daripadanya tidak mempunyai kaitan langsung dengan apa yang dita’birkan oleh penulis kitab(10). Bahkan melalui pemerhatian pengkaji pula tidak semua ta’bir mimpi disertakan dengan dalil-dalil daripada al-Quran dan al-Sunnah, ada juga ta’bir mimpi yang kebanyakannya hanya berdasarkan daripada kata-kata penulis sahaja yang dimulakan dengan ayat ini:
(قال الأستاذ أبو سعيد الواعظ رضى الله عنه)
Perkara ini boleh dikira sebagai perkara yang melemahkan penulisan kitab ini. Tambahan pula, kitab ini juga memuatkan hadith-hadith yang tidak dinyatakan hukum hadithnya.
Kitab ini juga sering membahaskan mengenai perkara yang sama secara berulang-ulang di dalam bab yang berbeza. Ia juga tidak mempunyai penditilan untuk setiap bab yang dikemukakan. Manakala tajuk babnya diletakkan dengan tajuk yang panjang agar setiap inci perkara yang dibahaskan dimuatkan di dalam tajuk-tajuknya.
Dari segi susun aturnya pula, sepertimana kitab-kitab lama yang lain, ia tidak mempunyai perenggan, tanda koma dan noktah.
KESIMPULAN
Melalui perbahasan tadi, dapat dikenalpasti bahawa kitab ini bukanlah hasil karya Ibn Sirin. Hakikatnya ia merupakan sebuah penulisan atau himpunan yang diusahakan oleh al-Kharkushi. Pengkaji berpendapat bahawa perkara ini perlu diambil perhatian oleh setiap penterjemah, pentahqiq dan penyusun kitab muntakhab agar kesilapan ini dapat dijelaskan di dalam hasil kerja mereka sebagai maklumat kepada pembaca kitab ta’bir mimpi yang popular ini.
Keistimewaan kitab ini dilihat dari sudut isinya yang dikatakan berpandukan kepada al-Quran dan al-Hadith. Kitab ini juga dianggap istimewa kerana ia bukanlah kitab ta’bir mimpi semata tetapi ia turut memuatkan perbahasan yang amat menarik berkenaan ilmu ta’bir mimpi dari sudut syariat. Namun begitu, ia juga tidak lari dari kelemahan-kelemahan (sepertimana yang telah dinyatakan pada perbahasan di atas) sebagai sebuah kitab tua yang dihasilkan beribu tahun dahulu.
_____________________________
(1) Al-Juzu, Abd Al-Rahman, Muntakhab al-Kalam Fi Tafsir al-Ahlam, Dar Maktabah al-Hayah, Beirut, 1995, hlm 20-21.
(2) Ibid, hlm 22.
(3) Kharkushi merupakan sebuah nama jalan yang terdapat di bandar Naisabur.
(4) Al-Dhahabi, Syams al-Din Muhammad bin Ahmad, Siyar A'lam al-Nubala’, Muassasah al-Risalah, Beirut, 1990, Juz 17, hlm 162.
(5) Ibid.
(6) Ibid.
(7) Ibid.
(8) Rujuk pada bahagian Pengenalan.
(9) Ayat-ayat al-Quran lebih banyak dimuatkan jika dibandingkan dengan al-Hadith.
(10) Al-Juzu, hlm 21.
Nota:
Artikel ini merupakan salah satu bab yang terkandung di dalam Latihan Ilmiah (tesis) penulis bertajuk 'Kajian Hadith Kitab Muntakhab al-Kalam Fi Tafsir al-Ahlam Yang Dinisbahkan Kepada Muhammad Ibn Sirin’. Ianya telah disemak oleh Dr Azwira Abd Aziz, pensyarah kanan Jabatan al-Quran dan al-Sunnah yang bertindak selaku penyelia penulis dalam menghasilkan kajian ini. Semoga maklumat yang terdapat di dalam artikel ini, sedikit sebanyak memberikan manfaat kepada semua. Sekian Wallahua’lam.
Subscribe to:
Posts (Atom)